Kamis, 23 November 2017

kisah perjuangan



GORESAN HIDUP
            Berawal dari sebuah mimpi yang jauh dari kata tercapai, hingga prosesnya pun penuh dengan kegagalan. Hingga kegagalan itu membuatku hampir putus asa, tapi  melihat perjuangan bapak dan ibuku lah aku mulai bangkit, bangkit dari kegagalan ini dan berusaha untuk meraih mimpiku, suatu mimpi yang dulu nya sangat sulit ku raih, tapi dengan kesabaran dan perjuangan yang keras akhirnya mimpi itu tercapai.
 Cerita ini berawal saat aku  sudah berada di kelas 3 Aliyah yaitu kelas paling tinggi di sekolah dan termasuk kelas yang bentar lagi akan meninggalkan bangku putih abu-abu dan tentunya aku harus fokus ujian dan fokus memikirkan masa depanku, ketika aku memikirkan masa depanku ini, aku dihadapkan sebuah kebingungan dimana  aku berfikir antara lanjut kuliah atau tidak. jika aku lanjut kuliah aku melihat kondisi perekonomian orang  tuaku yang tak mampu, tak tega hati ini terus-menerus membebani orang tuaku. Aku takut jika aku tetap lanjut kuliah semakin membuat orang tuaku tambah susah, dan jika aku tidak lanjut kuliah bagaimana dengan masa depanku, bagaimana dengan mimpiku, dan bagaimana aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku, akhirnya aku memutuskan untuk mencari informasi bagaimana aku bisa lanjut kuliah tanpa membebani orang tuaku, setelah beberapa hari aku mencari informasi, ada kakak tingkatku yang cerita bahwa dirinya lanjut kuliah tanpa bayar sepeserpun malah mendapat uang saku sedangkan dia orang yang tidak mampu.
Dengan keingintahuanku yang besar ku beranikan diri bertanya kepada kakak tingkatku, dia  menjawab bahwa dia mengikuti seleksi beasiswa yang namanya BIDIKMISI. Sejak saat itu aku mulai mencari informasi bagaimana aku bisa mendapatkan beasiswa bidikmisi tersebut. Ketika ada seleksi masuk PTN yaitu seleksi SNMPTN dibuka, aku semakin disibukkan dengan mengurusi persyaratan- persyaratan mulai dari persyaratan bidikmisi sampai persyaratan snmptn. Setelah semua persyaratan bidikmisi dan snmptn aku lengkapi akhirnya aku bisa daftar SNMPTN BIDIKMISI.
Aku sangat berharap bisa masuk seleksi tersebut karena aku teringat perkataan ibuku sebelum aku mengikuti seleksi ini, beliau berkata “elfia, ibu mendukungmu jika kamu ingin melanjutkan sekolahmu tapi jika kamu tidak masuk seleksi ini ibu akan sedih, karena ibu bingung bagaimana ibu bisa membiayai kuliahmu sedangkan bapakmu sudah semakin tua”.  Setelah aku mendapatkan pesan itu, aku semakin takut, takut jika kegagalan menghampiriku, tapi ku yakinkan diriku bahwa aku pasti berhasil. Saat itu pun tiba, aku begitu gemetar saat melihat pengumuman seleksi tersebut ada perasaan yakin bahwa aku pasti masuk seleksi tapi disisi lain aku juga takut jika aku gagal. Aku meminjam handphone temanku untuk membuka pengumumannya, setelah ku buka pengumumannya ternyata warna merah yang terlihat, yang menandakan aku gagal masuk seleksi, saat itu aku begitu sedih, aku membayangkan senyum indah di wajah ibuku hilang, aku takut ibuku kecewa kepadaku, tapi sesulit apapun kabar ini aku harus mengabari ibuku.
Dengan hati yang kuat ku beranikan diri mengatakan kegagalanku ini di hadapan ibuku, ku tahan air mata ku agar tidak menangis di hadapan ibuku, tapi apalah dayaku aku tak bisa menahan air mataku ketika aku melihat air mata itu mengalir di pipi ibuku, aku semakin sedih, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan aku merasa bahwa harapanku tinggal sebuah harapan. Setelah beberapa hari aku meratapi kegagalanku, aku sadar bahwa diriku harus bangkit dari keterpurukan ini. Setelah beberapa pertimbangan, aku memutuskan untuk melanjutkan seleksi SBMPTN yaitu seleksi tulis. Alhamdulillah, ibuku mendukungku lagi dan aku pun tak ingin membuatnya kecewa kedua kalinya. Saat aku daftar seleksi sbmptn, syarat untuk daftar seleksi tersebut salah satunya membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 200.000,00. sebelum aku daftar ada temenku yang memberitahuku jika aku sudah mengisi persyaratan bidikmisi aku tidak usah membayar, saat itu ada perasaan lega dalam hatiku ketika mendengar kabar tersebut karena uang itu bisa aku kembalikan ke orang tuaku. Aku semakin bersemangat mengikuti seleksi ini, setiap hari aku belajar materi yang akan di ujikan mulai dari soal-soal seleksi tahun kemarin, sampai buku menghadapi sbmptn tahun sekarang. Sebelum pelaksanaan seleksi tersebut ku yakinkan diriku bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha, ku pasrahkan semua kepada Allah Swt.
Satu bulan kemudian, ketika pengumuman sbmptn itu akupun bergegas ke warnet yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku di karenakan aku tidak punya Hp android ataupun laptop untuk  membuka pengumuman seleksi sbmptn, saat itu aku merasakan hal yang sama saat pengumuman snmptn dulu, aku takut jika aku akan gagal lagi, aku takut jika harapanku cuma tinggal sebuah harapan lagi, dengan pelan ku buka pengumuman itu di layar komputer, setelah muncul hasilnya aku masih belum melihatnya, ku tutup mataku dan dalam hati aku berdoa “ Ya Allah engkaulah maha pengasih lagi maha penyayang, Ya Allah ku pasrahkan urusanku ini kepada-Mu, jika engkau meridhoi hamba meneruskan kuliah ku mohon luluskan hamba dalam seleksi ini, dan jika engkau tidak meridhoi hamba meneruskan kuliah ku mohon lapangkanlah hati hamba, kuatkanlah hati hamba bahwa engkaulah sebaik-baik pengatur urusan” ku buka mataku dengan lirih ku baca basmalah, Ternyata warna hijau yang muncul yang menandakan bahwa diriku lulus Sbmptn, dan tertulis kampus Universitas Trunojoyo Madura dan  jurusan yang ku pilih itu muncul, begitu bersyukurnya diriku melihat pengumuman ini, cepat-cepat ku kabarkan berita gembira ini kepada ibuku.
Akhirnya, senyum indah yang dulu ku lihat di wajahnya mulai terlihat, aku begitu bahagia tapi rasa bahagiaku mulai pudar ketika aku sadar bahwa masih ada pengumuman yang harus ku tunggu yaitu pengumuman bidikmisi, Pengumuman yang sangat menegangkan untukku. Setelah beberapa hari pengumuman sbmptn, akhirnya pengumuman bidikmisi pun di umum kan saat itu aku sudah berada di madura untuk besok daftar ulang. Di malam itu, aku semangat  membuka pengumumannya aku begitu yakin bahwa diriku pasti lolos tapi Allah berkehendak lain aku tidak masuk bidikmisi dan harus bayar UKT sebesar Rp. 1.000.000,00.  saat itulah kesedihan yang pernah ku rasakan dulu terulang kembali, aku tahu ini memang sudah takdirku, tapi ketika ku kabari ibuku tentang berita ini, ibuku berkata “ibu bahagia kamu bisa masuk seleksi untuk kuliah tapi ingatlah bahwa kita orang yang perekonomiannya rendah, kita orang yang tidak mampu, jika kamu tidak masuk bidikmisi bagaimana nanti ibu membiayai kuliahmu dan membiayai kebutuhanmu disana,” saat itu aku hanya bisa menangis tersedu-sedu, sedangkan aku besok harus daftar ulang, aku bingung apa yang harus aku lakukan, ketika ada pengumuman bahwa ada penurunan ukt, aku coba untuk mengikutinya, begitu sulit perjuangan yang harus aku lakukan, mulai dari pengambilan surat keterangan itu dengan membicarakan masalahku, sampai ditolaknya pengajuanku saat penyerahan berkas ke screaning (tempat pengumpulan berkas penurunan ukt), hingga aku memohon ke bagian keuangan untuk mengiziniku untuk bisa ikut seleksi penurunan ukt. Berbagai cara aku lakukan untuk bisa mengikuti seleksi penurunan ukt tersebut walaupun aku harus menangis berkali-kali di hadapan bagian keuangan. Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia, bagian keuangan mengiziniku mengikuti penurunan ukt tersebut. Dengan syarat aku harus membayar ukt Rp.1.000.000,00 terlebih dahulu, Alhamdulillah ada teman yang meminjami ku untuk membayar uktku.    
Setelah aku pulang dari Madura aku beranikan diri untuk mengatakan ini ke ibuku “ibu, aku tetap lanjut kuliah, tapi aku mengikuti seleksi penurunan ukt bu, dengan syarat aku harus bayar ukt ku Rp.1.000.000, aku meminjam uang temanku bu,” ku lihat raut wajah ibuku yang mulai sedih saat mendengar ceritaku, kutahan airmataku dan aku teruskan untuk mengatakan ini “ibu, uang yang aku pinjem ke temanku harus dikembalikan besok.” Ibu ku menjawab” elfia ibu harus bayar pakai uang apa, ibu sedang tidak punya uang, kamu tahu setelah bapakmu tahu kalau kamu tidak masuk bidikmisi, bapakmu sangat kecewa dan dia tidak setuju jika kamu lanjut kuliah” saat itulah airmataku semakin deras mengalir dipipi “ ibu, ku mohon aku sangat ingin lanjut kuliah, yakinkanlah bapak agar mengizinkanku, ibu aku yakin jika Allah telah meridhoi aku lanjut kuliah dengan memberikan kesempatan untukku lulus seleksi sbmptn, tolong bu, izinkanlah aku kuliah aku yakin pasti ada jalan  kemudahan atas kesulitan ini”. Akhirnya ibuku mengizinkanku lanjut kuliah dan membantuku menyakinkan bapakku agar mengiziniku, Alhamdulillah setelah banyak hal yang ku lalui untuk menyakinkan bapakku, akhirnya, beliau menyetujui keputusanku. Keesokan harinya, bapakku memberikan uang untuk mengganti uang temanku yang aku pinjam untuk membayar uktku,  saat itu aku merasa bahagia karena harapanku tidak hanya sebuah harapan.
Beberapa hari kemudian, saat aku akan berangkat ke Madura, sebelum pamit kepada orang tuaku, tak sengaja aku melihat tempat penyimpanan padi yang kosong, aku berfikir” mengapa tempat itu kosong padahal dahulunya ada beberapa karung padi yang telah tersimpan”  akhirnya ku tanyakan perihal ini ke ibuku “ bu, di tempat penyimpanan padi itu mengapa kosong, setahuku ada beberapa karung padi didalamnya?. Ibuku menjawab “ beberapa karung padi itu sudah dijual semua oleh bapakmu untuk mengganti uang ukt yang kamu pinjam ke temanmu”. Saat itulah aku merasa sangat bersalah pada ibu dan bapakku, air mataku mengalir dengan deras dengan terisak aku berkata ke ibuku “ ibu mengapa tidak bilang dari awal bahwa ibu dan bapak menjual semua hasil panen padi untuk mengganti uang yang kupinjam untuk membayar uktku, bagaimana ibu dan bapak makan nanti” ibuku menjawab “Sudahlah nak, gak usah kamu fikirkan, yang terpenting belajarlah yang sungguh-sungguh”. Dengan terisak aku berkata ke ibuku “aku pasti akan berusaha cari beasiswa bu, aku pasti bisa mengurangi beban ibu dan bapak”. Ku lihat air mata ibuku mengalir. Setelah aku pamit berangkat ke madura, aku mantapkan diriku agar selalu giat belajar, Tujuanku hanya satu aku harus cari beasiswa untuk mengurangi beban orangtuaku.
Hari berganti hari, tak terasa sudah satu bulan aku di madura, menjalani aktivitas kuliah di madura, setiap kali aku teringat kegagalanku masuk seleksi bidikmisi sampai melihat beberapa karung padi yang dijual hanya untuk membayar uktku, aku merasa sangat sedih, selalu air mata ini mengalir deras di pipiku, dalam hati aku selalu berdo’a “ Ya Allah engkaulah maha pengasih lagi maha penyayang, ya Allah hamba yakin bahwa kesulitan ini pasti ada kemudahan, ya Allah ku mohon berikanlah jalan kemudahan itu kepadaku, sungguh, begitu sakit hati ini melihat ibu bapakku kesusahan karena hamba, berikanlah kemudahan ya Allah”. Setelah beberapa hari kemudian, muncul pengumuman bidikmisi gelombang dua, aku begitu berharap bahwa aku bisa lolos seleksi ini walaupun kecil harapanku untuk tercapai. Keesokan harinya, ku lihat pengumuman yang tertempel di mading fakultasku, dengan gemetar aku cari namaku disana, begitu banyaknya nama yang tercantum di sana, hampir aku merasa sedih ketika kertas itu sudah hampir habis sedangkan namaku belum tertera, tapi ketika ku mulai menyerah ada perasaan bahagia ketika ku lihat namaku di lembaran terakhir paling bawah,  Alhamdulillah Allah menjawab do’aku, begitu bahagia nya diriku dengan langsung aku menghubungi orangtuaku di rumah, aku mendengar perkatan bahagia dari orangtuaku, ku rasakan perasaan lega ini menyelimuti hatiku, apalagi jika ku ingat kembali begitu sulitnya tujuanku ini tercapai, tetapi Allah membantuku dengan rencana-Nya yang begitu indah.
Inilah ceritaku, kisah perjuangan dari seorang anak petani biasa, yang dulunya hanya bisa bermimpi, tak tahu apakah mimpi ini bisa tercapai atau tidak, yang terpenting tetaplah bermimpi dan berusaha, manusia hanya bisa merencanakan tapi Allahlah yang menentukan, apapun hasilnya, skenario Allah itu terbaik, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar