GORESAN HIDUP
Berawal
dari sebuah mimpi yang jauh dari kata tercapai, hingga prosesnya pun penuh
dengan kegagalan. Hingga kegagalan itu membuatku hampir putus asa, tapi melihat perjuangan bapak dan ibuku lah aku
mulai bangkit, bangkit dari kegagalan ini dan berusaha untuk meraih mimpiku, suatu
mimpi yang dulu nya sangat sulit ku raih, tapi dengan kesabaran dan perjuangan
yang keras akhirnya mimpi itu tercapai.
Cerita ini berawal saat aku sudah berada di kelas 3 Aliyah yaitu kelas
paling tinggi di sekolah dan termasuk kelas yang bentar lagi akan meninggalkan
bangku putih abu-abu dan tentunya aku harus fokus ujian dan fokus memikirkan
masa depanku, ketika aku memikirkan masa depanku ini, aku dihadapkan sebuah
kebingungan dimana aku berfikir antara
lanjut kuliah atau tidak. jika aku lanjut kuliah aku melihat kondisi
perekonomian orang tuaku yang tak mampu,
tak tega hati ini terus-menerus membebani orang tuaku. Aku takut jika aku tetap
lanjut kuliah semakin membuat orang tuaku tambah susah, dan jika aku tidak
lanjut kuliah bagaimana dengan masa depanku, bagaimana dengan mimpiku, dan
bagaimana aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku, akhirnya aku memutuskan
untuk mencari informasi bagaimana aku bisa lanjut kuliah tanpa membebani orang
tuaku, setelah beberapa hari aku mencari informasi, ada kakak tingkatku yang
cerita bahwa dirinya lanjut kuliah tanpa bayar sepeserpun malah mendapat uang
saku sedangkan dia orang yang tidak mampu.
Dengan keingintahuanku yang besar ku beranikan diri bertanya kepada
kakak tingkatku, dia menjawab bahwa dia
mengikuti seleksi beasiswa yang namanya BIDIKMISI. Sejak saat itu aku mulai
mencari informasi bagaimana aku bisa mendapatkan beasiswa bidikmisi tersebut.
Ketika ada seleksi masuk PTN yaitu seleksi SNMPTN dibuka, aku semakin disibukkan
dengan mengurusi persyaratan- persyaratan mulai dari persyaratan bidikmisi
sampai persyaratan snmptn. Setelah semua persyaratan bidikmisi dan snmptn aku
lengkapi akhirnya aku bisa daftar SNMPTN BIDIKMISI.
Aku
sangat berharap bisa masuk seleksi tersebut karena aku teringat perkataan ibuku
sebelum aku mengikuti seleksi ini, beliau berkata “elfia, ibu mendukungmu jika
kamu ingin melanjutkan sekolahmu tapi jika kamu tidak masuk seleksi ini ibu
akan sedih, karena ibu bingung bagaimana ibu bisa membiayai kuliahmu sedangkan
bapakmu sudah semakin tua”. Setelah aku
mendapatkan pesan itu, aku semakin takut, takut jika kegagalan menghampiriku,
tapi ku yakinkan diriku bahwa aku pasti berhasil. Saat itu pun tiba, aku begitu
gemetar saat melihat pengumuman seleksi tersebut ada perasaan yakin bahwa aku
pasti masuk seleksi tapi disisi lain aku juga takut jika aku gagal. Aku
meminjam handphone temanku untuk membuka pengumumannya, setelah ku buka
pengumumannya ternyata warna merah yang terlihat, yang menandakan aku gagal
masuk seleksi, saat itu aku begitu sedih, aku membayangkan senyum indah di
wajah ibuku hilang, aku takut ibuku kecewa kepadaku, tapi sesulit apapun kabar
ini aku harus mengabari ibuku.
Dengan
hati yang kuat ku beranikan diri mengatakan kegagalanku ini di hadapan ibuku,
ku tahan air mata ku agar tidak menangis di hadapan ibuku, tapi apalah dayaku
aku tak bisa menahan air mataku ketika aku melihat air mata itu mengalir di
pipi ibuku, aku semakin sedih, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan aku
merasa bahwa harapanku tinggal sebuah harapan. Setelah beberapa hari aku
meratapi kegagalanku, aku sadar bahwa diriku harus bangkit dari keterpurukan
ini. Setelah beberapa pertimbangan, aku memutuskan untuk melanjutkan seleksi
SBMPTN yaitu seleksi tulis. Alhamdulillah, ibuku mendukungku lagi dan aku pun
tak ingin membuatnya kecewa kedua kalinya. Saat aku daftar seleksi sbmptn,
syarat untuk daftar seleksi tersebut salah satunya membayar uang pendaftaran
sebesar Rp. 200.000,00. sebelum aku daftar ada temenku yang memberitahuku jika
aku sudah mengisi persyaratan bidikmisi aku tidak usah membayar, saat itu ada
perasaan lega dalam hatiku ketika mendengar kabar tersebut karena uang itu bisa
aku kembalikan ke orang tuaku. Aku semakin bersemangat mengikuti seleksi ini,
setiap hari aku belajar materi yang akan di ujikan mulai dari soal-soal seleksi
tahun kemarin, sampai buku menghadapi sbmptn tahun sekarang. Sebelum
pelaksanaan seleksi tersebut ku yakinkan diriku bahwa hasil tidak akan
mengkhianati usaha, ku pasrahkan semua kepada Allah Swt.
Satu
bulan kemudian, ketika pengumuman sbmptn itu akupun bergegas ke warnet yang
jaraknya lumayan jauh dari rumahku di karenakan aku tidak punya Hp android
ataupun laptop untuk membuka pengumuman
seleksi sbmptn, saat itu aku merasakan hal yang sama saat pengumuman snmptn
dulu, aku takut jika aku akan gagal lagi, aku takut jika harapanku cuma tinggal
sebuah harapan lagi, dengan pelan ku buka pengumuman itu di layar komputer,
setelah muncul hasilnya aku masih belum melihatnya, ku tutup mataku dan dalam
hati aku berdoa “ Ya Allah engkaulah maha pengasih lagi maha penyayang, Ya
Allah ku pasrahkan urusanku ini kepada-Mu, jika engkau meridhoi hamba meneruskan
kuliah ku mohon luluskan hamba dalam seleksi ini, dan jika engkau tidak
meridhoi hamba meneruskan kuliah ku mohon lapangkanlah hati hamba, kuatkanlah
hati hamba bahwa engkaulah sebaik-baik pengatur urusan” ku buka mataku dengan
lirih ku baca basmalah, Ternyata warna hijau yang muncul yang menandakan bahwa
diriku lulus Sbmptn, dan tertulis kampus Universitas Trunojoyo Madura dan jurusan yang ku pilih itu muncul, begitu
bersyukurnya diriku melihat pengumuman ini, cepat-cepat ku kabarkan berita
gembira ini kepada ibuku.
Akhirnya,
senyum indah yang dulu ku lihat di wajahnya mulai terlihat, aku begitu bahagia
tapi rasa bahagiaku mulai pudar ketika aku sadar bahwa masih ada pengumuman
yang harus ku tunggu yaitu pengumuman bidikmisi, Pengumuman yang sangat
menegangkan untukku. Setelah beberapa hari pengumuman sbmptn, akhirnya pengumuman
bidikmisi pun di umum kan saat itu aku sudah berada di madura untuk besok daftar
ulang. Di malam itu, aku semangat
membuka pengumumannya aku begitu yakin bahwa diriku pasti lolos tapi
Allah berkehendak lain aku tidak masuk bidikmisi dan harus bayar UKT sebesar Rp.
1.000.000,00. saat itulah kesedihan yang
pernah ku rasakan dulu terulang kembali, aku tahu ini memang sudah takdirku,
tapi ketika ku kabari ibuku tentang berita ini, ibuku berkata “ibu bahagia kamu
bisa masuk seleksi untuk kuliah tapi ingatlah bahwa kita orang yang perekonomiannya
rendah, kita orang yang tidak mampu, jika kamu tidak masuk bidikmisi bagaimana
nanti ibu membiayai kuliahmu dan membiayai kebutuhanmu disana,” saat itu aku
hanya bisa menangis tersedu-sedu, sedangkan aku besok harus daftar ulang, aku
bingung apa yang harus aku lakukan, ketika ada pengumuman bahwa ada penurunan
ukt, aku coba untuk mengikutinya, begitu sulit perjuangan yang harus aku
lakukan, mulai dari pengambilan surat keterangan itu dengan membicarakan
masalahku, sampai ditolaknya pengajuanku saat penyerahan berkas ke screaning
(tempat pengumpulan berkas penurunan ukt), hingga aku memohon ke bagian
keuangan untuk mengiziniku untuk bisa ikut seleksi penurunan ukt. Berbagai cara
aku lakukan untuk bisa mengikuti seleksi penurunan ukt tersebut walaupun aku
harus menangis berkali-kali di hadapan bagian keuangan. Akhirnya perjuanganku
tidak sia-sia, bagian keuangan mengiziniku mengikuti penurunan ukt tersebut.
Dengan syarat aku harus membayar ukt Rp.1.000.000,00 terlebih dahulu,
Alhamdulillah ada teman yang meminjami ku untuk membayar uktku.
Setelah
aku pulang dari Madura aku beranikan diri untuk mengatakan ini ke ibuku “ibu,
aku tetap lanjut kuliah, tapi aku mengikuti seleksi penurunan ukt bu, dengan
syarat aku harus bayar ukt ku Rp.1.000.000, aku meminjam uang temanku bu,” ku
lihat raut wajah ibuku yang mulai sedih saat mendengar ceritaku, kutahan
airmataku dan aku teruskan untuk mengatakan ini “ibu, uang yang aku pinjem ke
temanku harus dikembalikan besok.” Ibu ku menjawab” elfia ibu harus bayar pakai
uang apa, ibu sedang tidak punya uang, kamu tahu setelah bapakmu tahu kalau
kamu tidak masuk bidikmisi, bapakmu sangat kecewa dan dia tidak setuju jika
kamu lanjut kuliah” saat itulah airmataku semakin deras mengalir dipipi “ ibu,
ku mohon aku sangat ingin lanjut kuliah, yakinkanlah bapak agar mengizinkanku,
ibu aku yakin jika Allah telah meridhoi aku lanjut kuliah dengan memberikan
kesempatan untukku lulus seleksi sbmptn, tolong bu, izinkanlah aku kuliah aku
yakin pasti ada jalan kemudahan atas
kesulitan ini”. Akhirnya ibuku mengizinkanku lanjut kuliah dan membantuku
menyakinkan bapakku agar mengiziniku, Alhamdulillah setelah banyak hal yang ku
lalui untuk menyakinkan bapakku, akhirnya, beliau menyetujui keputusanku.
Keesokan harinya, bapakku memberikan uang untuk mengganti uang temanku yang aku
pinjam untuk membayar uktku, saat itu
aku merasa bahagia karena harapanku tidak hanya sebuah harapan.
Beberapa
hari kemudian, saat aku akan berangkat ke Madura, sebelum pamit kepada orang
tuaku, tak sengaja aku melihat tempat penyimpanan padi yang kosong, aku berfikir”
mengapa tempat itu kosong padahal dahulunya ada beberapa karung padi yang telah
tersimpan” akhirnya ku tanyakan perihal
ini ke ibuku “ bu, di tempat penyimpanan padi itu mengapa kosong, setahuku ada
beberapa karung padi didalamnya?. Ibuku menjawab “ beberapa karung padi itu
sudah dijual semua oleh bapakmu untuk mengganti uang ukt yang kamu pinjam ke
temanmu”. Saat itulah aku merasa sangat bersalah pada ibu dan bapakku, air
mataku mengalir dengan deras dengan terisak aku berkata ke ibuku “ ibu mengapa
tidak bilang dari awal bahwa ibu dan bapak menjual semua hasil panen padi untuk
mengganti uang yang kupinjam untuk membayar uktku, bagaimana ibu dan bapak
makan nanti” ibuku menjawab “Sudahlah nak, gak usah kamu fikirkan, yang
terpenting belajarlah yang sungguh-sungguh”. Dengan terisak aku berkata ke
ibuku “aku pasti akan berusaha cari beasiswa bu, aku pasti bisa mengurangi
beban ibu dan bapak”. Ku lihat air mata ibuku mengalir. Setelah aku pamit
berangkat ke madura, aku mantapkan diriku agar selalu giat belajar, Tujuanku
hanya satu aku harus cari beasiswa untuk mengurangi beban orangtuaku.
Hari
berganti hari, tak terasa sudah satu bulan aku di madura, menjalani aktivitas
kuliah di madura, setiap kali aku teringat kegagalanku masuk seleksi bidikmisi
sampai melihat beberapa karung padi yang dijual hanya untuk membayar uktku, aku
merasa sangat sedih, selalu air mata ini mengalir deras di pipiku, dalam hati
aku selalu berdo’a “ Ya Allah engkaulah maha pengasih lagi maha penyayang, ya
Allah hamba yakin bahwa kesulitan ini pasti ada kemudahan, ya Allah ku mohon
berikanlah jalan kemudahan itu kepadaku, sungguh, begitu sakit hati ini melihat
ibu bapakku kesusahan karena hamba, berikanlah kemudahan ya Allah”. Setelah
beberapa hari kemudian, muncul pengumuman bidikmisi gelombang dua, aku begitu
berharap bahwa aku bisa lolos seleksi ini walaupun kecil harapanku untuk
tercapai. Keesokan harinya, ku lihat pengumuman yang tertempel di mading
fakultasku, dengan gemetar aku cari namaku disana, begitu banyaknya nama yang
tercantum di sana, hampir aku merasa sedih ketika kertas itu sudah hampir habis
sedangkan namaku belum tertera, tapi ketika ku mulai menyerah ada perasaan
bahagia ketika ku lihat namaku di lembaran terakhir paling bawah, Alhamdulillah Allah menjawab do’aku, begitu
bahagia nya diriku dengan langsung aku menghubungi orangtuaku di rumah, aku mendengar
perkatan bahagia dari orangtuaku, ku rasakan perasaan lega ini menyelimuti
hatiku, apalagi jika ku ingat kembali begitu sulitnya tujuanku ini tercapai,
tetapi Allah membantuku dengan rencana-Nya yang begitu indah.
Inilah
ceritaku, kisah perjuangan dari seorang anak petani biasa, yang dulunya hanya
bisa bermimpi, tak tahu apakah mimpi ini bisa tercapai atau tidak, yang
terpenting tetaplah bermimpi dan berusaha, manusia hanya bisa merencanakan tapi
Allahlah yang menentukan, apapun hasilnya, skenario Allah itu terbaik, semua
yang terjadi pasti ada hikmahnya.



